Monday, January 25, 2016

Pergerakan Terkini Teroris di Indonesia




Pergerakan Terkini Teroris di Indonesia
Oleh David Raja Marpaung

Kelompok yang menamakan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) bergerak dengan perkembangan yang luar biasa. ISIS berhasil meyakinkan dan merekrut warga dari banyak negara untuk berjihad di Suriah, termasuk Indonesia. Namun, tidak hanya dari negara Asia, tetapi juga dari Australia dan Eropa yang basis masyarakatnya bukan muslim. Penggalangan ISIS tentu sangat mengkhawatirkan. Hal ini berbahaya, terutama jika para relawan ini kembali ke Indonesia. Arus balik relawan ISIS wajib untuk diwaspadai agar tidak menjadi ancaman bagi keamanan maupun pertahanan  negara.3
Setelah perburuan besar besaran terhadap jaringan teroris di Indonesia, memang balasan atau tindakan penyerangan yang mereka lakukan hanyalah tinggal menunggu waktu. Namun yang mengkhawatirkan adalah serangan terkini di Jakarta, diklaim oleh gerakan teroris yang saat ini sedang populer dan ditakuti di seluruh dunia.
Nampaknya jaringan ini telah memerintahkan serangan sepioradis bagi seluruh simpatisan ISIS di seluruh dunia. ISIS tidak memandang apakah negara yang diserang merupakan negara dengan mayoritas penduduknya muslim atau bukan.
Analisis ancaman dari gerakan ISIS di Indonesia adalah sebagai berikut : kelompok garis keras adalah kelompok yang mempunyai hasrat yang sangat tinggi. Mereka akan melakukan apapun dan mengorbankan apapun demi tercapainya hasrat yang dimiliki. Bahkan kelompok garis keras ISIS cenderung bangga dalam melakukan kekerasan dengan dibuktikan munculnya video di sosial media tentang kekerasan yang dilakukan ISIS.
Harapan yang dimiliki oleh ISIS adalah terbentuknya khilafah islamiyah. Ideologi yang tertanam sangat kuat. Walaupun beberapa fakta menunjukkan bahwa simpatisan ISIS dari daerah Jawa Timur yang tertangkap di Malaysia saat akan mencoba hijrah ke Suriah mempunyai motif ekonomi selain motif ideologi. Namun harapan tersebut dapat dinilai tinggi mengingat para simpatisan rela menjual harta bendanya di kampung halaman sebagai modal keberangkatan ke Suriah.
Kemauan dan harapan para simpatisan ISIS di Indonesia yang terwujud dalam suatu niat untuk hijrah dan bergabung dengan gerakan ISIS di Suriah tidak dapat dianggap kecil. Bahkan dapat dikatakan sangat tinggi. Simpatisan mempunyai kemauan untuk menuju khilafah islamiyah dan tentu saja harapan untuk hidup lebih sejahteran dibandingkan sebelumnya.
Proses rekrutmen ISIS yang dilakukan secara rapi mampu menamkan kemauan dan harapan bagi para simpatisan dengan sangat kuat. Tentu saja perekrut mempunyai pengalaman dan kepentingan yang besar terhadap suksesnya perekrutan ini.
Pengetahuan para simpatisan ISIS pada saat berangkat ke Suriah mungkin biasa-biasa saja. Bahkan bisa disebutkan bahwa mereka tidak mempunyai pengetahuan untuk perang atau melakukan teror. Tetapi keyakinan bahwa mereka akan dilatih untuk berperang mewujudkan khilafah islamiyah tidak bisa dipandang sebelah mata. Jika benar-benar para simpatisan tersebut dilatih di Suriah, tentu akan menjadi sangat berbahaya jika suatu saat mereka kembali ke Indonesia dan melakukan gerakan menegakkan khilafah islamiyah dengan segala cara.
Pencegahan
Salah satu usaha efektif untuk mencegah terorisme adalah dengan deradikalisasi. Secara sederhana deradikalisasi dapat diartikan sebagai suatu usaha untuk membuat orang tidak radikal. Pemerintah Indonesia telah melakukan deradikalisasi sebagai salah satu cara lunak mengatasi terorisme di Indonesia pasca bomb Bali tahun 2002. Sasaran dari program deradikalisasi adalah teroris yang sudah tertangkap, bekas teroris, kelompok potensial yang bisa direkrut teroris maupun masyarakat umum.
Pada saat ini tercatat sudah lebih dari 700 relawan ISIS yang kembali ke Indonesia. Sebanyak 50 persen diantaranya bertugas sebagai pejuang atau dikategorikan bersenjara di Suriah, sedangkan sisanya menjalankan fungsi pendukung atau hanya mencari pengalaman belaka. Malah tidak sedikit dari mereka yang berharap mendapatkan gaji ketika berada di Suriah.
Namun deradikalisasi dapat dikatakan kurang ampuh, dalam tragedi di Jakarta, salah satu terduga dalang penyerangan, Bahrun Naim, merupakan mantan terpidana asal Indonesia. Selain itu, saat ini juga dapat dilihat keberadaan kelompok islam radikal juga kian meluas seperti FPI, jaringan JAT, jaringan Mujahiddin, dan lainnya.

Persiapan
Persiapan dalam menghadapi pendadakan strategis gerakan terorisme ISIS maka pemerintah perlu membuat perangkat hukum sebagai landasan untuk melakukan tindakan. Revisi Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan RI sangat diperlukan. UU yang saat ini menyebutkan bahwa seseorang bisa kehilangan kewarganegaraan jika secara sukarela masuk ke dinas negara asing harus diperluas termasuk jika beperang melawan negara sahabat.
Kewenangan Intelijen Negara yang tertulis dalam UU Nomor 17 tahun 2011 tentang Intelijen Negara Pasal 5 disebutkan bahwa: Tujuan Intelijen Negara adalah mendeteksi, mengidentifikasi, menilai, menganalisis, menafsirkan, dan menyajikan Intelijen dalam rangka memberikan peringatan dini untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan bentuk dan sifat ancaman yang potensial dan nyata terhadap keselamatan dan eksistensi bangsa dan negara serta peluang yang ada bagi kepentingan dan keamanan nasional.
Untuk mewujudkan tujuan ini tentu diperlukan suatu kemampuan dan perangkat yang memadai sehingga Intelijen Negara dapat mendeteksi sinyal pendadakan strategis yang akan terjadi. Persiapan yang mutlak dilakukan oleh negara adalah menyiapkan sumber daya intelijen yang mampu mendeteksi dan menganalisis sinyal pendadakan strategis.

Kontra Terorisme
Sejak era reformasi Indonesia tercatat telah mengalami lebih dari sembilan puluh kali serangan terorisme. Kebanyakan dari serangan tersebut dilakukan dengan menggunakan ledakan bom, mulai dari bom mobil, bom bunuh diri hingga bom buku. Serangan-serangan tersebut lebih banyak diarahkan kepada masyarakat luas dan dilakukan di tempat-tempat terbuka.
Ancaman terorisme di Indonesia sebenarnya sudah menurun pasca dihancurkannya sel-sel Jamaah Islamiah oleh operasi yang secara masif dilakukan oleh Indonesia Malaysia dan Singapura. Hampir semua Tokoh-tokoh JI ditangkap dan diadili. Sebagian dipenjara, sebagian lagi terbunuh dalam operasi, serta sebagian kecil tertembak mati.
Namun, ISIS kini muncul sebagai suatu gerakan yang sangat sulit diidentifikasi dan dikenali. Oleh karena itu langkah penindakan yang diperlukan juga tentunya harus berbeda. Dalam ensiklopedi terorisme, Kontra terorisme adalah penggunaan personel dan sumber daya lainnya untuk mendahului (preempt), mengganggu (disrupt), atau menghancurkan (destroy) kemampuan (capability) teroris dan jaringan pendukung mereka.
Ada dua pendekatan yang biasanya digunakan dalam menanggulangi Tindak Pidana Terorisme. Kedua pendekatan itu bisa berupa pendekatan keras (hard approach) dan pendekatan lunak (soft approach). Pendekatan yang disebut pertama antara lain adalah melalui penegakan supremasi hukum, menggunakan unit-unit militer anti teror—Sat 81 Gultor, Denjaka, Den Bravo termasuk Densus 88—dan operasi intelijen. Sedangkan pendekatan kedua adalah aktivitas intelijen merupakan sebuah siklus yang tak berhenti, sehingga tugas utama dari intelijen dalam konteks keamanan adalah memberikan peringatan dini (early warning) untuk melakukan deteksi dini sehingga suatu negara dapat menghindari pendadakan strategis (strategic surprised) yang datang dari musuh seperti halnya aksi-aksi teror.
Yang menjadikan teroris sulit dilacak dan dijadikan target dalam sistem intelijen dikarenakan mereka mengorganisasi diri dan kelompok mereka dalam beberapa jaringan dan sel-sel dan lalu membuat kelompok mereka menjauh dari masyarakat terbuka, akan tetapi dengan hal itu, mereka kadang muncul dan membunuh secara tiba-tiba
Kontra terorisme akan berhasil dengan baik jika dijalankan oleh agen-agen intelijen yang profesional dengan dukungan sarana dan prasarana yang baik pula. Disamping itu kerjasama antara institusi keamanan juga diperlukan demi kelancaran sebuah operasi kontra teror. Ukuran keberhasilan intelijen dalam melakukan pendeteksian dini dalam kontra terorisme adalah dengan melihat proses siklus intelijen. Dimana proses itu berjalan melalui pengoleksian data (collecting) oleh para agen-agen dilapangan yang kemudian data tersebut di analisa secara seksama (analyzing) oleh para analis intelijen lalu kemudian di sebarkan (disseminating) kepada institusi-institusi yang berkepentingan untuk kemudian dijadikan acuan sebagai bahan penentu langkah-langkah yang tepat kedepannya.





1 comment:

  1. Daulah khilafah islamiyah, baqiyah, bi'idznillah. Allahu Akbar!!!. semoga khilafah bisa tegak di Indonesia http://transparan.id

    ReplyDelete